
Seorang insinyur wanita
Ijinkan saya dulu untuk mengulas lebih banyak lagi tentang liku-liku perjuangan sang insinyur tadi. Karena apa yang dialami Ibu insinyur itu bisa menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk sampai pada sebuah pemahaman atas apa yang sedang terjadi di tengah keseharian hidup bermasyarakat kita .
Sama hal nya bagi kebanyakan kita, bahwa masalah sepele dan apalagi itu persoalan tentang keseharian yang sangat biasa dan sudah terbiasa kita lakukan setiap hari. Dimana lagi daya tarik dan nilai jual nya kalo masalah yang kecil itu pun mau dijadikan sebuah proyek. Mimpi aja kali… ato kurang kerjaan…. bisa aja muncul dalam pikiran dan sikap kita. Betul apa benar…..?
Sebuah titik balik terjadi ketika sang insinyur diundang dalam sebuah konferensi internasional di Tokyo dengan topic bahasan yang mungkin gila dan nyeleneh menurut pemahaman kita. Mau tahu apa topic nya itu ? ..... tak lain dan tidaklah luar biasa yaitu tentang K A K US alias toilet. Nah…..heran khan pembaca…..?
Tapi sekecil apapun isu itu bukti nya telah menjadi isu yang besar bagi negara-negara besar sehinggakan mau mengadakan hajatan besar dengan budget yang besar di negara sebesar Jepang. Mari kita coba menoleh ke negeri lain di luar negeri kita, paling dekat kita bertandang lah dulu ke Negara paling dekat dengan kita yaitu negara sebelah rumah, kecil tapi uangnya besar banget yaitu Singapura.
Apa yang yang telah dijalankan oleh Singapura telah pun menjadi sebuah magnit yang sangat kuat bagi negara-negara yang sedang mekarnya baik skala ekonomi maupun tingkat hidup dan kemajuan negaranya.
Bagaimana dengan toilet di negeri kita tercinta ?
Coba bangkitkan kembali kenangan pembaca ketika mengembara di pasar tradisional. Ketika sibuk menikmati sensasi pasar yang hiruk pikuk dengan lakon menjual dan membeli dan juga ditambah dengan sebuah syair dari Ahmad Albar…..” bercampur dengan peluh semua orang…..” cukup eksotik khan? Nah pada saat itu perut sakit melilit atawa kepengen……Ppp……is. Kuat gak membayangkan penderitaan sesaat itu. Kita buru-buru lari terbirit-birit untuk mencari sebuah sweet corner yang berlabel “ WC Umum lengkap dengan tarif yang detail, Mandi Rp 3.500, Buang Air Besar Rp 1.000 , Buang Air Kecil Rp 500. dan Main Air ….gak ada tarif nya. Puaslah kita dengan kondisi yang ada? mmm jawab sendiri ya. Jangan bilang siapa-siapa .
Begitu juga dengan beberapa Mall yang ada di negeri ini, ada sebagian Mall yang sudah mulai mau memanjakan pengunjung nya dengan melengkapi fasilitas toilet yang apik dengan kebersihan yang tertata. Tapi masih juga ada Mall yang mengutip bayaran kepada pengunjung yang akan menikmati fasilitas toiletnya. Cuma yang bikin kurang puas walau udah dibayar sekalipun tetap aja tidak memuaskan, kran air mampet , tisu berserakan di lantai, closet duduk yang malah bukan diduduki tapi diinjak dan lain sebagainya dan sebagainya. Inilah wajah per-Toiletan di negeri kita.
Pemahaman yang telah dipegang oleh Negara-negara dengan prinsip kekuatan budaya ditentukan oleh perilaku dari penduduk bangsa itu sendiri, telah memasuki ke wilayah yang lebih kecil dan menyangkut gerak hidup semua orang dalam sebuah komunitas suatu bangsa. Ditengah ancaman makin menurun nya ketersediaan alam untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh hajat hidup manusia banyak, air misalnya masihkah kita bisa mengabaikan bahwa rata-rata setiap orang dari kita, apakah ada yang tidak pernah ke toilet agak satu hari? Dan sadarkah kita bahwa banyak penyakit menular diekspor dengan media yang paling ampuh yaitu toilet. Atau kita belum berani mengakui bahwa persoalan sekecil toilet itu akan bisa menjadi pembunuh misal penduduk suatu bangsa? Coba aja kalo gak percaya kalo ada wabah diare…. terus toilet yang ada sangat buruk dan sudah bisa dipastika berapa bakal calon korban yang jatuh karena wabah yang menular itu. Mengerikan bukan…..? nah ada yang Mau untuk memulai mendandani toilet menjadi Green n Clean ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar